PASANGAN
ANEH
Punya pacar itu asyik tahu, tapi
nggak untuk Selvi. Gadis manis kelas dua SMA yang sedang menjalin hubungan
special dengan sang kekasih hati ini selalu saja dibikin sakit kepala. Faisal,
itulah nama pacarnya. Selvi berharap Faisal akan memberikan kejutan yang luar
biasa, amazing dan romantis di hari
ulang tahunnya ini.
Sepertinya harapan ini sia-sia pikir
Selvi curiga, karena melihat Faisal biasa-biasa saja, malah sepertinya dia
melupakan hari ini. Sejak jam 12 malam tadi, nggak ada ucapan selamat yang
romantis yang mampu bikin hati menangis bahagia. Tapi Selvi masih terus
berharap ada kejutan lain yang mungkin tengah disiapkan kekasih tercintanya.
Memikirkan apa yang akan Faisal berikan kepadanya kelak bikin Selvi sumringah
kayak orang sarap akut alias gila. Padahal mungkin semua itu nggak akan terjadi
jika melihat Faisal yang dari tadi kerjaannya cuma main dikelasnya.
Harapan Selvi benar-benar sirna,
buat hatinya benar-benar emosi. Senyum sumringah tadi berubah jadi amarah yang
bener-bener memuncak dan bisa bikin siapa pun yang melihat wajahnya pasti akan
lari, lantaran wajah Selvi kayak wajah mafia yang siap membunuh. Hari ini
amarahnya benar-benar diuji dengan ketidakwarasan otak Faisal dan bikin Selvi
sakit hati. Sama sekali nggak seperti yang Selvi harapkan. Sangat mengecewakan.
“Nggak guna banget sih, masak lo
ngasih gue kacang rebus, nggak ada yang laen apa?“, bentak Selvi kesal.
“Terserah gue dong mau kasih hadiah
apa. Kalo lo nggak mau sini buat gue aja, lumayan kan buat cemilan gue dikelas
sebelum pelajaran“, bales Faisal geram nyaris marah, “dikasih hadiah bukannya
makasih”, lanjutnya.
“Iya-iya, makasih banget “, jawab
Selvi terpaksa lalu berlalu pergi.
***
Sesampai kamar kosannya yang baunya
udah nggak jelas bau apaan. Selvi nelpon sahabatnya buat ngadu nasibnya hari
ini, siapa tahu Mira mengerti penderitaannya. Apalagi ini hari ulang tahunnya,
hari istimewa untuk Selvi.
“Gila! Cowok macam apa dia coba
Mir??!!!! Ceweknya ulang tahun cuma dihadiahin sekantong plastik item kacang
rebus!!! Apa kata dunia, Mir???!!“, teriak Selvi nyaring banget dihape
bututnya, sehingga bisa dipastikan orang yang sedang mendengarkan Selvi bisa
langsung budek permanen.
“Hahahaha….bagus dong, Sel, itukan
emang makanan favorit lo selain bakso kan?“, jawab Mira ngasal banget dan puas
bikin Selvi makin naik darah.
Wah gila sahabatnya malah ngetawain
penderitaannya ketimbang mikirin apakah pantes Faisal ngasih hadiah ulang tahun
sekantong kacang rebus dihari ulang tahunnya.
Dari penghinaan Mira barusan, Selvi
mengambil kesimpulan kalau Mira sama sekali nggak prihatin akan deritanya. OH
MY GOSH. Hampir saja Selvi ikutan nggak waras kayak Faisal saking setres karena
marah.
“Bagus kata lo??!! Walaupun itu
termasuk makanan favorit gue, tapi nggak ada sejarahnya dalam dunia berpacaran
cuma ngasih kacang rebus doang, Mir. Gue juga bisa beli sendiri kalau cuma
kacang rebus doang mah. Gue nggak minta hadiah mahal, tapi nggak hadiah
beginian juga! “, cerocos Selvi marah.
“Ini sejarah baru Sel yang Faisal
kasih buat kelangsungan dunia berpacaran kalian. Siapa tau dapet rekor Muri,
terus kalian terkenal. Nah… pas udah terkenal tuh kalian bisa beli makanan
mahal kan selain kacang rebus pastinya, hehehehee… ”, jawab Mira ngeledek
sengaja buat Selvi makin marah.
“Sejarah jidat lo!”
Kali ini Selvi nggak hanya empet
sama Faisal, tapi sama Mira juga. Minta ditelen hidup-hidup kayaknya.
Mira akhirnya menyadari kalau
perkataannya tadi sedikit keterlaluan. Mira menghentikan tawanya, “Siapa tahu
dia lagi nggak punya duit kali, Sel?“, ungkap Mira mengalah dari pada jika
diteruskan pertempuran ini akan berakhir pada putusnya tali persahabatan
keduanya. Mira belum siap kehilangan sahabat yang aneh kayak Selvi.
“Nggak mungkin dia nggak punya duit,
Mir, baru kemaren dia beli sepatu bola, masa nggak punya duit buat beliin gue
hadiah ulang tahun yang murah aja“, protes Selvi nggak terima.
“Nah, dia jadi bangkrut setelah beli
sepatu bola kali“, ujar Mira masih tetap membela Faisal bikin Selvi berfikir
kalau Mira bukan temannya lagi. Teman sendiri membela musuh berarti musuh juga
kan.
“Nggak mungkinlah” kata Selvi.
“Iya juga sih?“, ucap Mira pasrah
nggak tahu harus ngomong apa.
“Apalagi kan dia tajir, Mir. Kalau
pun dia malu minta duit sama bonyoknya buat beliin gue hadiah, bisakan dia
nabung beberapa bulan sebelum hari ulang tahun gue“, jelas Selvi panjang.
Orang yang diseberang hanya
manggut-manggut, “Iya juga sih, Sel. Tapi, Sel, lo harusnya kudu bersyukur,
karena cowok lo masih inget sama hari ulang tahun lo, terus ngasih lo hadiah
walaupun hanya kacang rebus doang“, jelas Mira seolah menasehati anaknya sendiri.
“Iya-iya bersyukur banget gue hari
ini“, jawab Selvi kesal dan udah malas mendengarkan semua omongan Mira yang
sama sekali tidak membuat kekesalannya berkurang. Yang ada Selvi makin panas
dengerin Mira nggak berpihak kepadanya. Selvi lalu seenaknya mematikan obrolan,
padahal Mira masih asyik menceramahinya.
Punya sahabat nggak simpati banget
sama kondisi sahabatnya. Punya cowok yang nggak tampan, tapi begini
kelakuannya. Dihari ulang tahun Selvi sekalipun nggak ada kejutan yang
menyenangkan.
Padahal di hari kelahirannya ini,
Selvi berharap banget kalo cowoknya akan ngasih surprise yang membuat Selvi jadi makin cinta sama dia. Kalo tahu
begini, sekalian aja Selvi pacaran sama abang penjual kacang rebus yang
kegatelan banget sama Selvi. Pasti tiap hari makan kacang rebus gratis tanpa
harus memikirkan bayaran. Kalau udah tiap hari makan kacang rebus, nggak
mungkin pula saat hari ulang tahunnya dikasih kacang rebus lagi. Apalagi abang
penjual kacang rebus langgangan Selvi dideket pasar impress yang keseringan
Selvi utangin. Kata abang itu, Selvi nggak bakalan kekurangan makanan kalo
hidup sama dia, karena persediaan kacang yang belum direbus di kampung nya
masih banyak, jadi kalo Selvi laper, langsung deh makan kacang rebus. Iya nggak
bakalan kekurangan makanan, tapi yang ada Selvi bisa kekurangan gizi. “Ogah gue.. Amiitt…amiiitt!!!“ ujar Selvi
sambil menghentikan khayalannya yang bagaikan mimpi buruk itu.
***
Sepuluh menit lagi jam istirahat,
tapi sebagian penghuni sekolah udah ada di kantin. Kebanyakan yang udah ada
disini adalah anak kelas sepuluh yang habis olahraga.
Selvi
pun udah ada di kantin dari tadi. Entah sejak kapan Selvi menghilang dari
kelas, sampai-sampai Mira sohibnya yang duduk sebangku sama dia pun nggak
menyadari kalau Selvi sudah menghilang. Mira berfikir kalau Selvi punya
keahlian menghilang seperti Ninja Hatori.
Nggak ada satu pun anak yang berani
kabur atau hanya sekedar permisi ke toilet sebentar saat pelajaran Pak Togar.
Tapi Mira kagum dengan Selvi yang berani menentang ketidaksukaannya kepada Pak
Togar yang sama sekali nggak ganteng ini (apa hubungannya coba??!!). Selvi
berhasil mengelabui pak Togar dan seketika menghilang ke kantin tanpa jejak
sedikit pun.
Murid kelas Selvi udah pada keras
dimeja masing-masing. Terlebih lagi mereka pun ikut disalahkan gara-gara Selvi
yang tiba-tiba ngilang entah kemana. Nggak ada yang bisa menjawab pertanyaan
pak Togar, “Dimana Selvi sekarang?? Masa kalian nggak tahu Selvi kemana?? .
Pak Togar nggak suka sama murid yang
bersikap kayak Selvi. Apalagi popularitas Selvi yang mampu mengalahkan kabar
perseteruan Anang dan Syahrini ini pun membuat Pak Togar sakit jiwa. Pak Togar
pun harus menyediakan obat penenang dalam dosis tinggi setiap kali menghadapi
Selvi. Meski sudah disiagain dua pleton Brimob di sekolah, tetap saja Selvi
bisa kabur bagaikan Gayus tambunan. Canggih banget kan Selvi.
***
Selidik punya selidik, Selvi udah
ada dikantin lantaran Selvi nggak bisa nahan hasrat ingin makan nya yang baru
bisa tersalurkan sekarang. Pagi tadi sebelum berangkat sekolah, Selvi nggak
sempat nodong tukang bubur ayam yang sering mangkal di pinggir rel kereta
didekat kosannya. Perasaan Selvi mengatakan kalau abang bubur ayam takut
diutangin lagi karena utang Selvi udah numpuk nggak dibayar-bayar. Hari ini
terpaksa Selvi nggak sarapan pagi, padahal kata nenek moyang Selvi, jangan
sampai melewatkan sarapan pagi, sama
seperti pepatah bilang: “Jangan pergi
berduaan” heheheeee kagak nyambung….
Selvi menyantap baksonya dengan
beringas. Ini sudah mangkok ke empat yang berhasil ia habiskan. Tiba-tiba Selvi
berhenti sejenak menikmati bakso maknyus nya, bukan lantaran udah kenyang, tapi
Selvi memikirkan apa hukuman kali ini yang akan Pak Togar hadiahkan kepadanya.
Rasanya seperti mendapatkan boneka baru dari mama, Hehehee….Selvi senyum iblis.
***
Setelah diceramahin panjang lebar,
Selvi sekarang sedang menjalankan hukuman dari gurunya yang tidak
ber-prikemanusiaan. Harusnya Pak Togar tahu yang namanya toilet itu bau banget
dan bermacam bau ada disini, masa Selvi harus membersihkan toilet sekolah ini
sendirian. Mana sanggup dia. Tapi pak Togar mengatakan kalau mang Ujang yang
udah tua itu aja mampu membersihkan seluruh sekolah, masa dia yang masih muda
nggak bisa. Disindir seperti itu bikin Selvi geram dan nggak terima. Akhirnya
dengan pede, Selvi pun mengatakan mampu kepada pak Togar. Jawaban yang sangat
disayangkan oleh dirinya sendiri. Apalagi toilet cowok disini baunya amit-amit.
Dijamin penciumannya bisa langsung mati rasa setelah keluar dari sini.
Aroma bunga bangkai dari toilet
benar-benar bisa membuat lapisan ozon kita makin menipis. Dan bau ini berhasil
memenuhi rongga kepala Selvi hingga membuat ia limbung hampir jatuh. Untung
sekali kekasih hatinya datang bagaikan Panji Milenium. Faisal cepat menangkap
Selvi sebelum ia benar-benar tersungkur dilantai toilet.
“Kamu nggak apa-apa, sayang?!”,
tiba-tiba suasana menjadi romantis. Toilet yang bau pun berubah menjadi taman
yang indah penuh dengan bunga warna-warni.
Selvi sedang liat-liatan alias
bertatapan dengan Shahrukan, lalu perlahan terdengar lagu India. Selvi langsung
menari-nari dengan anehnya. Shahrukan meraih tangannya, lalu Brukkkk…
“Adawww…!!!”, teriak Selvi
kesakitan.
Posisi Selvi jatuh tengkurap
dilantai toilet yang masih basah dan kotor.
“Lo sebegitu ngefansnya ya sama
caiya-caiya nya Briptu Norman, sampe-sampe lo kira gue poon beringin apa buat
lo nari-nari… Mana pake acara napsu gitu lagi lo ngeliatin gue“, Faisal protes,
seperti nya Faisal baru menyadari kalau sepertiga otak ceweknya ini gila.
Selvi masih dilantai dengan posisi
sangat nggak bagus. “Siapa yang napsu liat lo. Nenek gue juga nggak bakalan
napsu ngeliat lo“, jawab Selvi kesal lantaran lamunannya bersama Shahrukan
terganggu oleh mahkluk satu ini. Kemaren udah bikin dia marah banget,
berani-berani nya sekarang nih cowok ngebanting dia di lantai.
“Ya iya lah nenek lo nggak bakalan
napsu ngeliat gue, kan lo bilang nenek lo katarak“, jawab Faisal kesal, “Udah
jangan bawel, ngapain lo ditoilet cowok? ngintipin cowok-cowok lo ya??“, tambah
Faisal melotot.
“Jidat lo! Gue disuruh bersihin
semua toilet disekolah ini“, Jawab Selvi nggak kalah sewot mendengar penghinaan
pacarnya yang sungguh kejam.
Faisal mengambil sapu lidi untuk
membantu Selvi membersihkan toilet. Bau toilet ini sama sekali belum hilang,
jadi ngapain aja dari tadi Selvi disini pikirnya, Tiduran?? Tebak Faisal.
“Mau ngapain lo kesini. Mau
ngetawain gue. Kalo dateng kesini cuma buat ngeberatin hukuman gue, mending
minggat lo dari sini“, kata Selvi kasar. Nih mahluk satu pasti mau bikin makin
berantakan deh. Penderitaan Selvi sepertinya belum berakhir ditangan pak Togar,
tapi juga ditangan kekasih tercintanya.
“Gue mau bantuin lo dodol, gue
kasihan liat lo nerima hukuman dari Pak Togar. Lo juga sih pake acara kabur
saat pelajaran dia. Lo kira lo bisa lolos dari pak Togar apa? Jangan-jangan lo
kabur pelajaran dia karena lo nggak ngerjain pe-er ya?”, tuduh Faisal.
“Enak aja lo nuduh gue nggak buat
pe-er. Gue bukannya sengaja nggak buat pe-er dia, tapi gue lupa“, jawab Selvi
geram.
“Alaaah alesan aja lo“, Faisal nggak
percaya.
Selvi bete.
“Sini gue bantuin“, ucap Faisal
membantu. Faisal menyiramkan air lalu menyapunya.
Selvi melirik sinis kemata Faisal.
“Bantuin gue?“, Tanya Selvi nggak percaya. “Tumben lo punya rasa kasihan sama
gue, biasanya juga lo demen kalo gue dapet hukuman. Udah pergi sana!“, usir
Selvi nggak berperasaan.
Mendengar kata-kata Selvi membuat
otak Faisal nggak bisa menerima. Faisal membanting sapu lidinya kelantai dengan
kesal. “Gue kasihan sama lo, gue ikhlas mau bantuin lo, tapi kayaknya lo sama
sekali nggak ngehargain gue“, bentak Faisal marah lalu belalu.
Selvi sempat melihat raut wajah
cowoknya yang tidak ganteng itu sepertinya benar-benar marah.
Dikoridor menuju ruang Osis, Faisal
gondok setengah mati dengan sikap Selvi. Dia kesal banget. Padahal dia udah
bela-belain kabur sebentar dari rapat Osis hanya untuk memastikan kalau Selvi
masih bernapas setelah mencium aroma mematikan dari toilet yang semerbak itu.
Tapi niatnya sama sekali nggak dihargai oleh Selvi. Bikin Faisal marah.
Selvi duduk dilantai toilet yang
belum benar-benar kering. Ia sama sekali
nggak peduli jika rok nya kotor. Apa mungkin tadi sikapnya keterlaluan sama
Faisal. Tapi nggak juga kayaknya, pikir Selvi ngeles. Paling naas juga hubungan
mereka berakhir kalau Faisal udah nggak demen lagi sama dia. Putus bukan
berarti mati teman.!!
Putus dari Faisal-masih menunggu
dengan manis abang penjual kacang rebus, pikir Selvi ngasal sedikit jijay kalau
membayangkan abang penjual kacang rebus itu.
***
Atas pertimbangan yang cukup matang dan atas petuah dari Mira, serta
atas tersadarnya Selvi dari dosa-dosanya yang udah banyak, akhirnya Selvi
memutuskan kerumah Faisal untuk minta makan, (minta maaf maksudnya).
Setengah jam kemudian Selvi sampai
didepan rumah Faisal. Rumah itu masih megah dan masih mirip dengan rumah. Iyalah
rumah-lo kira sekolahan.
Ting….tong…ting….tong….ting….tong…
Selvi memencet bel berulang kali
memainkan seenaknya karena dikosan Selvi mainan seperti ini nggak ada. Norak.
Dira, adik Faisal yang masih duduk
disekolah dasar berbaik hati membukakan pintu dan menyuruh nya masuk. Selvi
sudah duduk di ruang tamu dengan manis. Selvi celingukan. Barang-barang dirumah
ini tampak mahal. Kalau dijual lumayan nih. Otak maling Selvi mulai beraksi.
“Hai sayang”, sapa Faisal langsung
membuyarkan itung-itungan berapa banyak keuntungan yang didapat Selvi kalo
menjual barang-barang mahal ini. “Tumben kesini, ada apa?”, tanya Faisal heran,
soalnya kejadian disekolahan tadi masih bikin Faisal gondok sama nih perempuan.
Apalagi tampang Selvi sama sekali tak menunjukkan rasa bersalah, makin bikin
Faisal bête.
“Sebenernya gua ogah kesini”, jawab
Selvi seenak udelnya.
“Terus?
“Gue kesini mau minta makan. Lo tahu
kan kalau gue kesini butuh perjuangan dengan nge-bayar angkot. Ongkos angkot
tadi harusnya jatah makan gue, tapi karena gue kesini, gue nggak jadi makan.
Dan sekarang lo mesti kasih gue makan untuk gantiin jatah makan gue tadi.
Apalagi gue ini anak kosan. Lo ngerti kan kalo anak kosan itu susah“, jelas
Selvi bikin Faisal nganga kaget nggak percaya kalau Selvi akan mengatakan hal
yang sangat memalukan untuk dikatakan.
“Minta makan. Buat malu amat lo, lo
kira rumah gue warteg apa?!“, Faisal ingin sekali nge-jitak kepala kekasihnya
ini, tapi diurungkan niat nya itu, melihat muka Selvi yang sepertinya berharap
makan. “Ya udah yuk kita kewarung nasi
goreng diujung gang sana“, jawab Faisal dari pada Selvi minta makan sama orang
tuanya nanti.
“Oke”, jawab Selvi cengengesan.
***
Sepuluh menit kemudian keduanya
sudah duduk di warung nasi goreng bang Jarot. Nama yang cukup keren untuk nama
sebuah warung nasi goreng. Nasi goreng langganan Faisal. Rasanya enak banget,
apalagi kalau makannya bareng kekasih tercinta. Selagi nungguin nasi gorengnya
jadi, Selvi main game di hape bututnya.
Berapa kali Faisal melirik ceweknya
ini, tapi Selvi terlanjur fokus pada mainannya. Faisal dicuekin…bete.. gerutu
Faisal geram.
Dua piring nasi goreng special plus
es jeruk sudah siap dinikmati. Selvi pun melahap makanannya dengan buas. Faisal
geleng-geleng kepala. Sama sekali bukan wanita feminin, tapi nggak membuat
cinta Faisal untuk Selvi habis, seperti nasi goreng Selvi yang hampir
habis. Dan cinta Faisal kepada Selvi pun
bukan cinta kacang rebus yang sewaktu-waktu tinggal kulitnya doang.
“Nih…”, Selvi menyerahkan kantong
plastik item kepada faisal.
“Buat gue?”
Selvi mengangguk dengan mulut penuh.
Faisal meletakan plastik itu dikursi tanpa membukannya.
“Kok nggak dibuka?“, tanya Selvi
heran.
“Gue udah tahu isi nya apa“, jawab
Faisal santai.
Selvi mengangguk sambil terus makan.
Faisal udah tahu itu pasti isi nya
kacang rebus. Lalu Faisal merogoh saku celananya. “Say, ini buat elo”
Faisal memberikan sebuah kotak kecil
dengan pita putih kepada Selvi yang asyik menjilati piringnya. Maksudnya
menjilati jarinya. Meratapi nasi gorengnya yang sudah tak bersisa. Niat hati
pengen nambah lagi. Tapi malu. Punya rasa malu juga Selvi ternyata.
“Apa ini?”, tanya Selvi menahan
niatnya mesan nasi goreng lagi.
“Buka aja“, jawab Faisal sok Cool.
Faisal ingin melihat ekspresi
ceweknya saat melihat hadiah yang ia kasih. Dia pasti kaget.
Selvi membuka kotak itu dan
didalamnya terdapat sebuah cincin dengan mata cincin kacang. Selvi sempat kaget
melihat mata cincin ini, karena dikirain ini kacang beneran, pengen di embat
juga sama Selvi. Selvi tersenyum.
“Lucu…“, ucap Selvi datar lalu
menaruh kembali cincin itu kedalam kotaknya.
Faisal kaget melihat Selvi hanya
berkomentar lucu kepada pemberiannya yang sudah dipesan lumayan lama ini. Itu
sama sekali nggak lucu, melainkan indah dan mahal pastinya, ucap Faisal
menggerutu dalam hati.
Perjuangan Faisal untuk memesan
cincin kacang ini pun nggak tanggung-tanggung, sampai-sampai Faisal dikira
penjual kacang sama pembuat cincin ini lantaran memesan mata cincin berupa
kacang. Dapat dipastikan pun Faisal dikira orang sarap kali gara-gara memesan
cincin dengan mata cincin kacang.
“Kok gitu doang?“, tanya Faisal shock nggak terima.
“Terus gimana dong. Gue kira itu
kacang beneran, pengen gue makan tadi nya”, celetuk Selvi membuat Faisal
senewen. Nggak ada ucapan terima kasih yang diharapkan Faisal sebelumnya.
Sangat diluar dugaan faisal. Sadis banget.
“Mana tangan lo?“, Faisal dengan
kejam menarik tangan Selvi.
Faisal memakaikan cincin itu kejari
manis Selvi. Cantik juga. Nggak nyangka akan secantik ini dijari tangan Selvi.
Selvi melihat cincin ditangannya
itu. “Thanks yaaaa... “, ucap Selvi malu-malu.
“Sun nya mana?“, pinta Faisal manja
sambil mendekatkan pipinya minta di cium.
“Tunggu dulu. Ehh, Ngomong-ngomong
dalam rangka apa nih elo ngasih gue cincin. Lo nggak niat ngawinin gue sekarang kan??!”
“Geer amat lo. Gue juga mikir kali
mau ngawinin elo”, jawab Faisal.
Selvi cemberut, “Trus? “tanya Selvi
nggak percaya kalau jawaban Faisal akan menohok seperti itu. Kejam.
“Ini dalam rangka ulang tahun lo
kemaren. Gue mau ngasih ini pas hari ulang tahun elo, eh ternyata belum jadi
cincinnya. Makanya baru sekarang gue kasih, karena baru jadi.”
“Ohh….”jawab Selvi lega sambil
memandangi jarinya yang lucu dengan cincin cantik itu.
“Tapi jangan seenaknya elo ya. Jangan sampe
nih cincin elo jual buat bayar utang-utang lo ditukang bubur ayam deket kosan
lo. Harus lo jaga baik-baik. Seenggaknya dengan ada nya cincin ini, lo udah
jadi milik gue“, jelas Faisal mengingatkan hal ini kepada Selvi yang sepertinya
nggak mungkin otak Selvi bisa mengingatnya dengan baik. Karena Selvi termasuk
manusia langka berotak kecil.
“Enak aja lo. Kata siapa gue milik
lo, gue masih milik keluarga gue“, sungut Selvi nggak terima.
“Iya gue tau lo milik keluarga lo.
Maksud gue, jangan sekali-kali lo ngelirik cowok lain apalagi sampe selingkuh
sama cowok lain. Dan satu lagi, gue nggak demen sama tukang kacang rebus
langganan lo yang kecentilan sama lo dideket pasar itu. Ngerti lo!“, ucap
Faisal mengancam Selvi. Walaupun gini-gini Faisal sayang banget sama Selvi.
“Tapi gue demen sama dia…“, jawab
Selvi iseng membuat Faisal melotot ingin menjitak nya.
Selvi bergegas lari keluar warung
sebelum ia benar-benar kena jitak. Faisal hendak mengejar, namun ia berhenti
dan merogoh saku nya meletakkan uang lima puluh ribuan diatas meja. Lalu
secepat kilat mengejar Selvi. Persis seperti Shahrukan mengejar Kajol. Hehehehe.
Selvi tersenyum bahagia.
Follow, @meisyarhani
Mohon masukkannya ya, terima kasih
banyak,
No comments:
Post a Comment