Tampang Luna masih shock. Ia
masih bengong didepan komputer nya, padahal kerjaan Luna sudah beres semua.
Luna shock
bukan lantaran melihat dedemit yang tiba-tiba muncul di layar komputer, tapi karena mendengar sebuah pernyataan dari
mulut Bayu tadi. Bayu, cowok manis tapi nekat ini, dengan lugas dan lugu nya
mengatakan perasaannya kepada luna.
Mengingat umur Bayu yang masih sangat muda. Luna tidak menduga kalau Bayu sampai nekat menyatakan
perasaannya, padahal Bayu sendiri tahu Luna sudah punya pacar. Secara tidak langsung Bayu berniat
mengusik hubungan cintanya. Kasarnya mengganggu hubungannya dengan sang pacar.
Luna adalah seorang gadis berumur 24 tahun yang
bekerja disebuah perusahaan yang bergerak di bidang pertelevisian. Tepatnya pada salah satu stasiun tv
lokal disuatu daerah. Luna bekerja sebagai Editor video untuk news atau berita, sedangkan Bayu serta 5 temannya adalah murid SMA yang sedang ditugaskan
oleh sekolah mereka untuk magang disini.
Memang bukan hal baru bagi kantor Luna menerima anak
magang, karena setiap tahunnya pasti mereka menerima anak magang yang diwajibkan
pihak sekolah untuk magang, selama tiga bulan. Yang pasti mereka adalah para
siswa yang mengambil jurusan broadcast.
Dengan adanya proses magang ini, para siswa
bisa langsung melihat dan memahami bagaimana cara kerja orang-orang yang
berkecimpung didunia pertelevisian. Juga memilah apa yang menarik
untuk ditayangkan dan
ditonton masyarakat, dan juga bagaimana bekerja
secara tim yang membutuhkan kekompakan. Serta mengerti bahwa bekerja di televisi sangatlah kompleks hingga dapat menyajikan suatu program yang menarik serta
memberikan pesan yang baik untuk masyarakat.
Setidaknya bagi para
pemagang perlu waktu beberapa tahun jenjang pendidikan
agar bisa mendalami
alat-alat dunia broadcast, tapi mereka
beruntung bisa mengenal alat-alat ini tanpa menunggu waktu yang lama dan
panjang. Makanya keenam pelajar ini harus bisa menghargai setiap kesempatan
yang diberikan kepada mereka, dan dapat
memanfaatkan waktu dengan sebaiknya. Dengan adanya teman-teman magang ini pula, pekerjaan para karyawan disini bisa sedikit
terbantu. Bisa pulang cepat.....Hehehe....
***
Luna terlonjak kaget ketika mendengar bunyi
sms di hp nya. Sudah
Luna duga, pasti sms dari Bayu lagi. Bayu
selalu mengiriminya sms. Selalu. Bahkan perhatian Bayu melebihi perhatian yang mas Andre berikan kepada Luna. Mas
Andre adalah pacar Luna, dia seorang juru kamera studio dikantor tempat Luna
bekerja. Mas Andre tahu betul kalau Bayu
menyukai Luna. Bayu pun tahu kalau mas
Andre adalah pacarnya Luna. Inilah alasan kenapa Luna sangat shock saat mendengar Bayu menyatakan
perasaannya. Padahal tampang Bayu yang tampan sekelas Raffi Ahmad ini pasti tidak akan
menemukan kesulitan
untuk mendapatkan pacar. Kenapa harus Luna?
Luna tak ingin membalas sms Bayu, ia takut
Bayu salah paham serta menilai Luna memberikan harapan padanya. Tapi Luna memikir ulang keputusannya
untuk tidak membalas sms Bayu.
Tapi kayaknya
agak keterlaluan juga sampai
nggak membalas sms Bayu. Kasihan Bayu. “pikir Luna. Balas sekali saja menurut
Luna sudah cukup kok.
“Iya makasih ya, mbak udh mkan kok. Qmu ndri
udh mkan lum?”
Hanya itu sms yang Luna balas, maksud hati ia
cukup membalas satu kali saja karena takut membuat Bayu jadi beranggapan Luna
memberinya harapan lebih. Sedangkan Luna hanya menganggapnya sebagai adik.
Sekarang sudah jam 3 pagi, dan Bayu masih
mengiriminya sms. Luna mulai
terganggu. Akhirnya Luna mendiamkan semua sms yang masuk. Ada sekitar 47 sms
dari Bayu yang masuk ke hapenya sekarang.
Entah apa isi sms-sms itu. Luna tidak peduli.
***
Parkiran sudah penuh. Luna baru saja datang dan langsung memarkirkan sepeda
motornya diparkiran kantor. Luna menuju lantai 4 yaitu ruang editing tempatnya
bekerja setiap hari. Baru saja Luna membuka pintu, dan mendapatkan sudah ada
Bayu disana. Tepat dimeja kerjanya.
Anak magang memang selalu datang duluan dari
karyawan disini, mereka termasuk siswa-siswi yang disiplin. Termasuk Bayu dan
teman-temannya.
Luna menuju mejanya. “Pagi Bayu, kamu lagi ngapain? ”sapa Luna ramah sembari menaruh tasnya diatas meja.
Bayu mengalihkan
pandangannya dari monitor kearah Luna, “Pagi mbak, aku lagi cari berita yang mau
diedit nih, tapi dari tadi nggak ketemu-ketemu juga. “jawab Bayu kelihatan
sedang kesusahan, karena memang kalau
nyari disini nggak bakalan ketemu, soalnya semua berita yang mau diedit itu
mesti kita ambil dari komputer Database News .
Wajar sih Bayu kebingungan, Luna belum
memberitahu nya. Sejak mereka magang disini, yang bertugas diruang editing
bukan lah Bayu, melainkan Haris, temannya. Rupanya hari ini sampai dua minggu
kedepan jadwal penugasan kerja mereka digilir, dan Bayu yang bertugas disini.
Mengingat Bayu
masih baru disini, Luna pun harus turun tangan langsung mengajarinya. Bayu
masih kurang bisa mengedit, tapi ini masih dimaklumi kok. Karenakan mereka yang magang disini baru saja mengenal
alat-alat kerja di kantor ini, yang mungkin berbeda dengan alat praktik yang
ada disekolah mereka.
Luna sudah sibuk membuka-buka folder dan membuat
salinannya. Sedangkan Bayu dari tadi sibuk melirik wajah Luna. Bayu sama sekali tidak memperhatikan apa yang
sedang Luna lakukan. Sementara Luna serius dengan apa yang sedang dikerjakannya.
Terlalu penasaran akan perasaan Luna, Bayu
merasa tak boleh menyia-nyiakan
kesempatan saat ini untuk mengungkapkan kembali perasaannya yang masih belum
dijawab oleh Luna tempo hari. Ditolak
atau malah diterima? Apakah Luna juga menyukainya atau tidak?
Kesempatan tidak datang dua kali, Bayu harus menanyakan perasaannya lagi biar jelas dan
ploong. “Mbak Luna, apa yang harus aku lakuin sama rasa suka
aku ke mbak? “, tanya Bayu dengan tiba-tiba.
Luna kaget mendengarnya, dan pendengaran Luna masih
bagus, tidak mungkin Luna tidak mendengar pertanyaan Bayu tadi, apalagi jarak keduanya
sangat dekat. Sekarang ini Luna sama sekali tidak ingin menjawab pertanyaan
Bayu. Luna sibuk mengerjakan tugasnya.
Sulit untuk fokus setelah
mendengar kata-kata Bayu barusan, tapi Luna pura-pura fokus pada pekerjaannya,
karena ia sendiri bingung harus jawab apa.
Merasa diabaikan oleh
Luna, Bayu pun bertanya lagi. “Mbak Luna, kalau aku suka sama mbak emang nya aku
salah ya mbak? “, tanya Bayu masih penasaran.
Luna berhenti menggeser-geser
mouse computer nya lalu melihat Bayu.
Ingin sekali rasanya berteriak marah pada Bayu. Bayu benar-benar tidak paham dengan
keadaan Luna yang sedang ribet dengan deadline,
dan harus selesai karena akan tayang sebentar lagi, Bayu malah memberikan beban
berat kepada otak dan perasaan Luna yang sepertinya sudah sangat berat dengan semua
pekerjaan yang harus diselesaikan dalam waktu singkat ini.
Untung disekeliling
Luna lagi pada konsentrasi dengan pekerjaan masing-masing, sehingga mereka merasa tidak ada yang aneh dimeja
Luna, padahal sekarang Luna sedang diganggu oleh remaja tanggung bernama Bayu.
Luna kembali mengerak-gerakkan
mousenya dan memencet-mencet keyboard lalu memberi title pada visual yang sedang ia kerjakan,
dan bergegas memotong-motong gambar yang tidak sesuai. Seharus nya Bayu paham
kalau Luna lagi ribet banget sekarang ini, dan cobalah berhenti mengusik pekerjaanya.
Jangan sampai gara-gara Bayu kerjaannya nggak kelar-kelar. Luna
harus berlomba dengan waktu
untuk menyelesaikan tugas Bayu yang belum selesai. Apalagi setengah jam lagi
mereka harus on-air
berita siang. Kalau sampai telat, Luna bisa di damprat sama Produser-nya.
Kesal omongannya nggak
ditanggapi Luna sama sekali, Bayu pun akhirnya diam.
***
Akhirnya berita yang Luna edit kelar juga sepuluh menit sebelum on-air. Untung masih keburu pikir
Luna lega. Luna buru-buru men-share
beritanya ke Master Control Room
(MCR) untuk ditayangkan.
Bayu membawakan
minuman dingin untuk Luna, “Mbak Luna, maaf ya aku udah
mengganggu pekerjaan mbak tadi. “ujar Bayu dengan muka polosnya merasa bersalah.
Luna merasa tidak enak juga udah nyuekin anak orang. “Nggak
papa kok, mbak cuma ngejar waktu aja tadi, karena udah mepet. Ya udah mbak
tinggal dulu ya.
“Mbak Luna
mau kemana, aku boleh ikut? “pinta Bayu.
Luna berhenti “Maaf Bayu, masa kamu mau ikut
mbak ketoilet?”, jawab Luna halus sambil melempar
senyum.
Bayu pun cengengesan malu.
***
Hari sudah malam, tapi
Luna belum bisa tidur juga. Luna masih menyimpan tanya untuk mas Andre, orang
terkasihnya. Tadi mereka janjian bertemu di Café tempat biasa mereka sering bertemu
atau istilahnya menghabiskan waktu bersama, tapi mas Andre tak kunjung datang dan
sampai detik ini mas Andre sama sekali belum mengabarinya.
Beberapa kali Luna
mencoba menghubungi orang terkasihnya ini pun sama sekali tak mendapatkan
balasan. Luna menepis pemikiran bodoh, seperti mas Andre pikun, dan mas Andre mungkin
amnesia mendadak sehingga lupa segalanya, termasuk janjinya kepada Luna.
Imajinasi Luna yang
bukan-bukan tadi tidak begitu mengganggu pikirannya, tapi yang bikin Luna setres
sampai tidak bisa tidur sekarang ini, dikarenakan tadi Melisa, teman Luna
dikantor memergoki mas Andre sedang bersama dengan seorang cewek yang memang
mantannya dulu. Gadis itu pun udah sering kali mengganggu hubungan mereka, walaupun
gangguan itu tak berakibat buruk hingga menyebabkan mereka bubar. Sejauh ini hubungan
Luna dan mas Andre masih berjalan baik.
Bohong banget kalau
Luna tidak terganggu dengan semua kabar yang beredar mengenai rumor kedekatan keduanya.
Tapi apapun yang terjadi, Luna masih percaya pada mas Andre ketimbang kabar
yang belum jelas itu. Ia memilih mas Andre karena mas Andre merupakan orang
yang dapat ia percaya.
Luna melihat jam
disamping tempat tidurnya. Sudah jam 1 pagi, mas Andre belum juga ngabari dia.
Kamu kemana mas,? Susah hati Luna karena sampai selarut ini belum juga ada kabar.
Ada apa ya? Berkali-kali usaha Luna menghubungi mas Andre gagal terus.
Akhirnya setelah bersusah
hati dan tidak tahu juga harus ngapain, Luna memantapkan hatinya berdoa kalau
mas Andre pasti akan baik-baik saja, mengingat saat ini mas Andre bukanlah anak
kecil lagi. Berharap besok akan jelas sebenarnya mas Andre ngilang kemana.
***
Siang ini cuaca sangat
panas, walaupun ruangan Luna sudah Full AC, tapi tetap saja ia kegerahan. Gelas
diatas mejanya pun sudah kosong lagi karena kebanyakan minum. Untung ia nggak
kebanyakan bolak-balik toilet gara-gara selalu ingin pipis.
Ruangan Luna juga
tidak banyak orang, karena sebagian besar kaum pria disini lagi pada sholat
Jum’at. Disini hanya ada Luna dan beberapa editor perempuan yang lagi asyik
ber-internet ria. Anak magang pun belum terlihat ada yang datang.
Baru saja Luna menshare materi Live berita ke MCR,
sekarang ia sudah sibuk lagi dengan pekerjaannya, yaitu materi untuk berita edisi
akhir pekan. Walaupun tidak dikejar tayang buat Live, tapi Luna tetap tidak bisa bersantai-santai. Luna harus mengedit,
dan waktunya hanya diberikan sampai jam empat sore nanti, kalau lewat dari jam
yang ditentukan, akan dapat teguran bahkan sampai hukuman. Jangan anggap
sepele.
Luna pun harus
mengerjakan berita untuk dua hari sekaligus yaitu Sabtu dan Minggu. Walaupun
ini cuma kantor kecil, aturan tetap nomor satu disini. Tapi beruntungnya Luna
karena semua materi recording pun
sudah siap sedia.
***
Segment satu program
berita lagi proses rendering. Haus
sudah mendera kerongkongan, gadis ini pun beranjak mencari minuman dingin
kekantin. Panas-panas begini emang paling segar minum yang dingin-dingin. Saat
Luna masuk kantin cukup lengang, ia langsung menuju tempat jual minuman dingin.
Setelah membayar, Luna
bergegas kembali keruangannya, pekerjaannya belum selesai. Masih numpuk.
Menunggu lift yang seperti biasa lama banget.
Luna asyik menyedot minuman jeruk dinginnya. Segar banget mengingat cuaca panas
menusuk kerongkorangannya.
Ting….perlahan lift yang ditunggu terbuka, Luna masuk
kedalam setelah menekan nomor 4 pada lift.
Ting….lift terbuka di lantai 2, berdirilah dua
orang disana. Lalu keduanya masuk. Luna mundur untuk memberi ruang pada
keduanya. Ting…lift pun terbuka lagi di
lantai 3, sepertinya sholat jum’at sudah selesai, karena lift berhenti di
lantai 3, yaitu mushola gedung.
Tiba-tiba pada lantai
3 ini, masuklah satu pria yang sangat Luna kenal, lelaki yang membuat hatinya
bimbang dan sangat khawatir, yaitu mas Andre. Lelaki tampan itu mengenakan peci
dan sarung, membuat siapapun yang melihat nya akan mengatakan hal yang sama,
yaitu ganteng banget.
Mas Andre tidak melihat ada Luna disini karena Luna
dibelakang, dan terhalang oleh beberapa
pria yang posturnya lebih tinggi dari dirinya. Sementara mas Andre berdiri didepan pintu lift.
Ting…lift berhenti di lantai 4 tempat Luna
bekerja. “Permisi…”,ucap Luna berusaha keluar dari ramainya orang disini. Luna kesulitan
untuk keluar dari dalam sini.
Mas Andre kaget
mendengar suara yang sangat ia kenal itu, ia langsung melihat kearah suara yang
begitu familiar dan melihat Luna yang sedang kesusahan keluar dari orang-orang
yang berada didalam sini. Seketika itu tangan mas Andre menarik tangan Luna dan
keduanya pun keluar dari lift. Luna
kaget menyadari tangannya ditarik oleh mas Andre dan membantunya keluar dari lift.
Mas Andre masih
menggandeng tangan Luna dan tatapan mas Andre begitu lekat menatap mata gadis
tercintanya ini. Luna pun membalas menatap mas Andre karena jujur saja ia
kangen dengan kekasihnya ini. Lama keduanya saling pandang, sampai pada
akhirnya mereka sadar kalau ada orang yang memperhatikan. Indri menghampiri.
Luna cemas melihat
wanita ini. Ia takut kalau mas Andre tergoda dan benar-benar jatuh cinta
padanya. Walaupun keduanya adalah mantan kekasih, bisa sajakan keduanya saling
mencintai lagi.
“Hai Lun… hai n’dre… dari tadi aku nyariin kamu, kebetulan deh
ketemu disini, ada yang mau aku omongin“, jelas Indri.
Hati Luna cemburu, mas
Andre melihat Luna. Luna berharap kalau mas Andre mengatakan tidak kepada
Indri.Tapi sayangnya mas Andre malah pergi dengan Indri. Luna bête dan kesal, “Kenapa harus ngobrol berdua begitu
sih?” celetuknya.
Luna membanting tubuh
ke kursi kerjanya. Cuaca panas ini membuat hatinya benar-benar panas. Minuman
dingin ini sama sekali tidak membantu. Kabar yang dia pikir hanya kabar tidak
penting itu pun sepertinya sudah membuat perasaannya membenarkan apa yang
terjadi.
Pekerjaan Luna jadi
nggak kelar-kelar, dari tadi dia sama sekali nggak bisa konsentrasi. Sampai-sampai
ia harus minta bantuan Doni, editor lain untuk membantu mengerjakan tugasnya. Baiknya
Doni, ia bersedia membantunya.
“Kamu kenapa Lun, ada
masalah ya? Kok nggak fokus gitu?“, tanya Doni.
Luna hanya menggeleng.
Entah kenapa dia malas menjawab pertanyaan apapun. Luna bête, jelas ini
mengganggu aktivitas yang seharusnya berjalan lancar.Tapi kali ini mas Andre
berhasil membuatnya gila.
Bayu baru saja masuk, “Eh
mas Doni… lagi ngerjain apa mas?“, tanya Bayu sambil menaruh tasnya dibawah
meja.
Doni masih mengetik-ngetik
keyboard-nya. “Ini bantuin mbak Luna
yang lagi sakit. Kamu baru datang?“, kata Doni.
Bayu menoleh kearah
Luna. “Mbak Luna sakit?”,ia tidak mau kalau Luna sakit, apalagi sampai sakit
gara-gara tertekan soal perasaannya. Bayu merasa bersalah.
Bayu mendekati Luna, “Mbak
Luna kenapa? Sakit apa?“, tanya Bayu pelan dan perhatian.
Luna tak bergeming. Ia
hanya menenggelamkan kepalanya diantara tangan nya diatas meja. Ia lagi tidak
ingin diganggu siapapun.
Bayu pun diam. Ia
mengira Luna tidur karena sakitnya.
***
Akhirnya pekerjaan
Luna yang dikerjakan Doni pun selesai.
Doni menyimpan semua
data yang sudah ia kerjakan disatu folder,
“Lun, udah selesai nih, pulang gih“, ucap Doni membangunkan Luna yang tertidur
pulas.
Masih ngantuk ditambah
kepalanya berat gara-gara masalahnya, Luna tersenyum. “Makasih ya mas..jadi
ngerepotin..“, ucap Luna nggak enak hati.
“Enggak papa kok, kamu
baik-baik aja kan? Mau dianterin pulang nggak?“,tawar Doni.
Luna tahu niat Doni
baik, tapi Luna lagi pengen sendiri, dan masa dia ngerepotin Doni lagi.
Luna memijat-mijat
kepalanya, “Aku baik-baik aja kok mas, nanti aku pulang sendiri aja”, jawab
Luna.
“Owh, oke deh, kalau
begitu aku pulang dulu ya”, Doni pamit.
Luna mengangguk.
***
Diruangan ini hanya
tinggal Luna seorang, karena tadi ia ketiduran pasti Luna tidak menyadari kalau
teman-temannya sudah pada pulang. Luna mengambil tasnya dan berdiri. Tapi
seketika kepalanya pusing dan semuanya jadi gelap.
Bangun-bangun Luna
sudah berada dirumah. Entah apa yang terjadi sehingga ia sudah dengan nyaman
tidur ditempat tidurnya yang empuk.
“Kamu udah bangun
sayang, nih makan dulu“, ucap seseorang yang Luna kangenin.
Ya, dia mas Andre.
Kenapa dia bisa ada
disini. Seingat Luna ia masih dikantor tadi.
Mas Andre meniupkan
bubur ditangannya, “Kamu tadi pingsan dikantor, sekarang pasti laper kan, makan
dulu nih?“,mas Andre menyuapinya bubur hangat. Luna melahapnya hati-hati.
Mas Andre menatap
Luna, “Maaf ya beberapa hari ini mas mungkin bikin kamu khawatir“, ucap mas
Andre memulai pembicaraan yang memang ingin didengar oleh Luna. Luna penasaran
kenapa mas Andre menghilang.
Luna menyandarkan
punggungnya dibantu oleh mas Andre.
“Mas Andre pasti punya
alasan kan?“,tanya Luna berusaha tenang, dia nggak mau terbawa emosi yang bisa
menggerogoti hatinya. Apalagi kepalanya masih pusing.
Mas Andre mengangguk.
Tiba-tiba ibu masuk dan
mengatakan kalau ada teman Luna datang. Mungkin teman kantor datang untuk
menjenguknya. Dengan dipapah oleh mas Andre, Luna keluar kamar menuju ruang
tamu.
Saat melihat siapa
yang datang, Luna kaget setengah mati. Sepertinya dia bisa pingsan lagi melihat
Indri datang kerumahnya. Untuk apa? Kalau untuk mengganggu hidupnya, sepertinya
Luna tidak siap. Tapi beberapa hari ini dia sudah terlanjur mengganggu
ketentraman hidupnya. Kalau sekarang berani datang kesini pasti nyali nya besar
sekali.
Indri melihat Luna
sedang dipapah oleh mas Andre. Mungkin dengan ini bisa membuat Indri berhenti
mengganggu mas Andre, “pikir Luna.
Indri tersenyum. “Hai
Lun, gimana kondisi kamu, udah sehat?“,tanya Indri bersahabat.
Luna balas tersenyum.
“Baik kok, makasih udah datang ya...“,ucap Luna juga bersahabat, ia tidak
mungkin memulai pertengkaran dengan menjawab kasar, apalagi sampai mengusirnya.
Mungkin niat Indri kali ini baik, untuk melihatnya.
“Silahkan duduk Ndri“,
ucap Luna.
Indri duduk sambil
memberikan bingkisan yang berisi buah.
“Makasih ya,
repot-repot kamu“, ucap Luna.
Indri tersenyum.
Mas Andre kedapur
untuk membuatkan minum. Keluarga Luna sudah seperti keluarga mas Andre, orang
tua Luna pun sudah menganggapnya anak. Dan sudah menyetujui hubungan mereka.
Indri merasa perlu
memberi tahu Luna mengenai hilangnya Andre, “Lun, maaf ya beberapa hari ini aku
minjem Andre tanpa ngasih tahu kamu dulu“, kata Indri membuka pembicaraan.
Luna menyimak. “Minjem
mas Andre? Emang nya barang”, canda Luna.
Indri tersenyum.
Luna mendengarkan dulu
penjelasan Indri kenapa mereka bisa menghilang. “Maksudnya minjem mas Andre apa
yah, aku nggak ngerti?”
Mas Andre datang membawakan minuman dan beberapa kue kering.
“Silahkan diminum Ndri“, ucap Luna.
Indri meminum minuman
segar itu lalu melanjutkan pembicaraannya. “Kemaren aku sama Andre ada urusan. ”
Luna mengerutkan keningnya. Ia nggak ngerti apa
maksud perkataan Indri barusan. Urusan? Urusan penting apa yang terjalin
diantara keduanya? Apa hubungannya dengan mas Andre?
“Assalamualaikum….”, ucap
seseorang dari luar rumah.
“Walaikumsalam…”, jawab
Luna, Indri dan mas Andre berbarengan.
Mas Andre keluar untuk
melihat siapa yang datang. Luna kenal dengan suara tadi, seperti suara Bayu. Tapi
apa mungkin Bayu main kesini.
Tiba-tiba orang yang
Luna maksud itu beneran datang kesini. Betapa shock nya Luna melihat kedatangan orang yang mengganggu hidupnya
ini.
“Aku nggak ganggu kan,
mbak, mas?”, tanya Bayu cengengesan.
Indri dan mas Andre
menggeleng, “Kamu nggak ganggu kok“, jawab mas Andre melirik Luna.
Luna panas dingin,
sepertinya dia beneran sakit nih. Ada apa kedua orang ini muncul dirumahnya.
Begitu banyak kejutan yang akhir-akhir ini datang dalam kehidupan Luna, membuat
dia bisa cepat mati karena jantungan.
“Gimana keadaan mbak Luna,
udah baikan?”, tanya Bayu manis.
Luna mengangguk “Alhamdulillah
udah mendingan kok.
Bayu duduk disamping
mas Andre. Sementara mata tajam Bayu tak lepas memandangi Luna. Entah ada apa
dimata Luna hingga membuat Bayu begitu nyaman melihatnya.
Mas Andre menyadari
bahwa Bayu melihat Luna, dan perasaan mas Andre cemburu. Walaupun ia sangat
yakin kalau Luna tidak akan tiba-tiba berpaling darinya, tapi mas Andre tidak
ingin Bayu menyukai Luna. Terlihat sekali bahwa Bayu ingin sekali memiliki
Luna. Andre masih sayang sekali dengan Luna.
“Gimana magang
dikantor Bay, betah. “Tanya mas Andre membuat Bayu berpaling dari Luna.
Bayu sontak berpaling
ke arah mas Andre. “Betah banget mas, apalagi ada mbak Luna. “jawab Bayu
cengengesan dengan muka polosnya.
Mendengar jawaban
Bayu, semua orang yang mendengar kaget. Apalagi Luna, ia shock, ada mas Andre pun Bayu mengakui kalau dia tertarik dengan
Luna. Luna berharap mas Andre tidak naik pitam.
“Kamu cinta banget ya
kayaknya sama mbak Luna? “tiba-tiba pertanyaan mengejutkan ini keluar dari
mulut mas Andre.
Luna dan Indri menatap
lekat mas Andre. Sementara Bayu
mengangguk dan tersenyum. “Aku cinta banget mas sama mbak Luna sejak awal aku
ketemu mbak Luna. “jawab Bayu polos dengan jujur.
Luna diam, bingung
harus mengatakan apa. Saat ini yang jadi masalah adalah Bayu, dia seolah tidak
memikirkan perasaan Luna atau pun mas Andre.
“Boleh kita bicara
berdua, “ucap mas Andre kepada Bayu.
Bayu mengangguk. Mas
Andre merangkul pundak Bayu dan keduanya menuju luar. Luna panik. Dia takut mas
Andre akan bersikap kasar pada bocah itu. Luna bangun dari duduknya, takut
terjadi apa-apa pada keduanya. Tapi Indri mencegah Luna.
“Biarin Andre ngobrol sama
Bayu Lun. “ucap Indri.
“Tapi Ndri..,
Indri meyakinkan Luna
bahwa semuanya akan baik-baik saja. Luna kembali duduk dengan perasaan was-was.
Walaupun tak terlibat perkelahian, tetap saja Luna ingin tahu apa yang keduanya
bicarakan.
“Lun, tenang aja,
semua nya pasti baik-baik aja kok. “kata Indri meyakinkan Luna.
Luna tersenyum.
Walaupun sebenarnya Luna meragukan apa yang Indri katakan karena dia sendiri
mengusik hubungannya dengan mas Andre.
“Mereka kok ngobrolnya
lama banget ya Ndri, apa sih yang diomongin. “ucap Luna masih khawatir karena
udah hampir satu jam keduanya belum juga selesai ngomong.
Indri duduk disebelah
Luna lalu menggenggam tangannya. “Kamu percayakan sama Andre, pasti semuanya
baik-baik aja. “ucap Indri lembut.
Luna mengangguk.
“Walaupun Bayu itu
tipe anak yang keras kepala, tapi aku yakin dia bisa nerima keputusan apapun,
“kata Indri yakin.
Luna melihat Indri.
“Apa kamu yakin Bayu bisa bersikap dewasa dalam hal ini? “Tanya Luna kepada
Indri. Karena mengingat usia Bayu yang masih tergolong muda, Luna tak yakin kalau
dia akan mengerti apa yang mas Andre bicarakan.
“Aku yakin. “jawab
Indri tegas.
Luna memicingkan
matanya melihat mata Indri. Dan Indri paham akan maksud mata Luna itu.
“Kenapa aku bisa yakin?.
Luna mengangguk.
“Karena Bayu itu adek
aku Lun, aku tahu banget dia anaknya kayak apa? “jawab Indri bikin Luna
menganga kaget.
Bayu adeknya Indri,
mereka sodaraan. Jadi selama ini kedua orang ini berniat mengusik hubungan nya
dengan mas Andre? Bergabung untuk merusak hubungan orang lain, “pikiran Luna
jadi error seketika.
Luna masih belum paham
apa maksud dari semua ini, apakah hanya kebetulan semata, atau emang sudah
direncanakan oleh Indri dan Bayu.
“Aku udah bicara soal
Bayu sama Andre, aku kemaren minta tolong Andre buat ngejelasin ke Bayu kalau
kalian itu nggak akan bisa diganggu apalagi sebentar lagi kalian akan tunangan,
awalnya Bayu nggak bisa terima, tapi pada akhirnya Bayu harus bisa rela.
“Maksud kamu? “Tanya
Luna makin nggak ngerti.
Indri membenarkan
duduknya, “Gini lho Lun, beberapa hari yang lalu aku sama Andre ngilang itu
sebenernya mempersiapkan acara tunangan kalian, Andre minta tolong sama aku
karena aku sama Andrekan sempat dekat. Dia bingung harus minta bantuan siapa,
karena aku nggak keberatan dan pacar ku juga ngebolehin, yaa akhirnya aku bantu
dia.
“Hah? “ucap Luna
melongo kaget.
Rasanya dia tidak
percaya dengan apa yang dikatakan Indri barusan. Orang yang dianggap mengganggu
hubungan mereka malah membantu mas Andre. Sepertinya ada yang keliru. “pikir Luna
masih tidak mengerti dengan semua ini.
“Iya sayang, maaf ya
kalau aku nggak ngasih tahu kamu dulu. “ucap mas Andre nyamber.
Luna masih tidak percaya,
tapi jujur saja dia sungguh bahagia saat mendengar sendiri dari mulut mas
Andre.
Mas Andre menggandeng
tangan Luna. “Semuanya udah siap kok, jadinya kamu nggak capek, mas nggak mau
lihat kamu sakit. “ucap mas Andre
mengecup kening Luna.
Luna senang sekali.
“makasih ya Ndri. “ucap Luna sumringah.
Indri menunjukan
jempolnya.
Tapi Luna terlupa satu
hal. Bagaimana dengan Bayu.
“Bayu mana mas? “Tanya
Luna. Luna melihat sekeliling rumah dan halaman tidak ada Bayu disan.
“Bayu tadi langsung
pulang. “ucap mas Andre.
Luna kaget, “Kenapa
mas? “Tanya Luna.
Mungkin mas Andre
mengatakan perihal pertunangan mereka yang akan digelar lusa kepada Bayu,
sehingga Bayu marah dan langsung pulang.
“Baiklah, aku pulang
dulu ya Lun, Ndre. “ucap Indri.
“Owh iya ndri, makasih
ya, dan titip permohonan maaf aku buat Bayu ya. “kata Luna.
“Sip.”jawab Indri
tersenyum lalu pulang.
***
Akhirnya acara
pertunangan dan lamaran selesai digelar. Baik keluarga Andre maupun Luna
semuanya hadir. Kedua pasangan ini pun tak habis nya tersenyum bahagia melewati
hari bahagia ini.
Setelah pembicaraan
dua keluarga tadi pun, kalau dua bulan lagi mereka akan segera menikah. Andre
dan Luna akan menjadi keluarga sebentar lagi. Tapi Luna masih cemas dengan
Bayu. Hari ini Bayu tidak datang keacara mereka walaupun siswa magang yang lain
pada datang. Apakah mungkin Bayu marah dengan Luna?
“Mas Andre, mbak Luna,
masih ada makanan kan? “Tanya seseorang dengan lucunya.
Pasangan ini pun
langsung menoleh dengan senyum dibibir keduanya, “masih kok Bay, kamu langsung
makan aja, “ucap mas Andre lega karena orang yang menjadi kegundahan hati
mereka tadi akhirnya nongol juga.
Bayu bergegas
mengambil makanan yang ingin ia makan. Luna dan Andre melihatnya hanya bisa
tersenyum senang.
“Mulai sekarang kamu
nggak usah khawatir lagi ya soal Bayu, sepertinya dia udah bisa nerima kok.
“kata mas Andre sambil mengelus pipi Luna yang halus dan lembut.
Luna mengangguk. Ia
lega karena seperti Bayu tidak sakit hati dengan keduanya. Jatuh cinta memang
indah, tapi lebih indah kalau kita bisa mengikhlaskan perasaan kita untuk
kebahagiaan orang yang kita cintai. Dan Bayu bisa melakukan itu kali ini.
END
Meisya (0819 9568 0064)
No comments:
Post a Comment